Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Memoar Pena dan Buku

Habis membaca isi surat anak di NTT yang bunuh diri, membuatku bergeming. Kemiskinan masih menjadi hantu untuk negara ini. Bahkan, anak SD pun, terpikir untuk bunuh diri? Di usia yang sebelia itu? Di saat bisa bermain riang di lapang-- yang seharusnya tak khawatir dengan kehidupan dewasa yang mengkhawatirkan. Namun, memang benar, kepasrahan hidup bisa dirasakan sejak kecil, bahkan bisa dimulai sejak kita masih dalam rahim. *** Dukamu menjadi memoar yang menggema  dan melahirkan duka-duka terpendam bahwa kegigihan bisa memutus imaji bahwa asa menjelma pinta yang tak ada bahwa langit menjadi tempat terakhir untuk berpisah dari nadi Maaf karena hal sederhana pun tak bisa kau dapatkan maaf karena bumi yang kau pijak tak pernah jadi naungan ternyaman Maaf karena kehidupan yang kamu punya tak memberimu daya, untuk sekadar pelukan Papa atau ketenangan Mama Maaf untuk negeri yang tak pernah menengokmu,  sementara di kursi-kursi petinggi itu sibuk dengan isi kantongnya sendiri maaf kar...

Saat Kau Menemukan Titik di Jembatan

Gambar
Sumber foto: pixabay                                                     'Seperti pulang pada pelukan ibu' kau tahu di sanalah kau akan tinggal dalam lengkunganku hangatnya menjadi kekal yang membuatmu terus merasa aman tanpa beban   pikiran      di ujung pekan--yang selalu membuai harapan tentang kebahagian di masa depan Sementara aku tersemai dalam memori bagaimana keikhlasan adalah buah dari kehidupan bagaimana ketakutan bak gelombang yang menepi di perairan Dan di titik itulah kedewasaan menjadi jembatan-- yang menghubungkan sekaligus memisahkan Hingga kekal yang kau damba mampu menuntunmu berbalik arah aku berdoa kita menjelma lapang yang kenangnya perlahan lekang dan ketenangan menjadi bekal saat menemukan jawaban