Memoar Pena dan Buku

Habis membaca isi surat anak di NTT yang bunuh diri, membuatku bergeming.

Kemiskinan masih menjadi hantu untuk negara ini. Bahkan, anak SD pun, terpikir untuk bunuh diri? Di usia yang sebelia itu?

Di saat bisa bermain riang di lapang-- yang seharusnya tak khawatir dengan kehidupan dewasa yang mengkhawatirkan.

Namun, memang benar, kepasrahan hidup bisa dirasakan sejak kecil, bahkan bisa dimulai sejak kita masih dalam rahim.


***

Dukamu menjadi memoar yang menggema 

dan melahirkan duka-duka terpendam

bahwa kegigihan bisa memutus imaji

bahwa asa menjelma pinta yang tak ada

bahwa langit menjadi tempat terakhir untuk berpisah dari nadi


Maaf karena hal sederhana pun tak bisa kau dapatkan

maaf karena bumi yang kau pijak tak pernah jadi naungan ternyaman

Maaf karena kehidupan yang kamu punya tak memberimu daya,

untuk sekadar pelukan Papa atau ketenangan Mama

Maaf untuk negeri yang tak pernah menengokmu, 

sementara di kursi-kursi petinggi itu sibuk dengan isi kantongnya sendiri

maaf karena tangan-tangan yang harus menolongmu, tak pernah benar-benar ada,

tak pernah menyambutmu, tak pernah memelukmu untuk sekadar memberimu rasa percaya

kalau pendidikan bisa menyelamatkanmu.

Tapi, justru untuk meraih itu, kau harus menukar hidup dengan jeratan


Lahirlah kembali dengan ribuan bukumu di tangan

lahirlah kembali dengan cerita menyenangkan dari pena yang kamu pegang sendiri

lahirlah kembali di negara yang bisa membuatmu bersyukur, berkali-kali



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata-kata Yang Berlari di Tengah Jatuh Cinta

Satu Hari Pergi ke Tempat Ahli Surga

Menangkap Cahaya di Dinding Bulan