Postingan

Memoar Pena dan Buku

Habis membaca isi surat anak di NTT yang bunuh diri, membuatku bergeming. Kemiskinan masih menjadi hantu untuk negara ini. Bahkan, anak SD pun, terpikir untuk bunuh diri? Di usia yang sebelia itu? Di saat bisa bermain riang di lapang-- yang seharusnya tak khawatir dengan kehidupan dewasa yang mengkhawatirkan. Namun, memang benar, kepasrahan hidup bisa dirasakan sejak kecil, bahkan bisa dimulai sejak kita masih dalam rahim. *** Dukamu menjadi memoar yang menggema  dan melahirkan duka-duka terpendam bahwa kegigihan bisa memutus imaji bahwa asa menjelma pinta yang tak ada bahwa langit menjadi tempat terakhir untuk berpisah dari nadi Maaf karena hal sederhana pun tak bisa kau dapatkan maaf karena bumi yang kau pijak tak pernah jadi naungan ternyaman Maaf karena kehidupan yang kamu punya tak memberimu daya, untuk sekadar pelukan Papa atau ketenangan Mama Maaf untuk negeri yang tak pernah menengokmu,  sementara di kursi-kursi petinggi itu sibuk dengan isi kantongnya sendiri maaf kar...

Saat Kau Menemukan Titik di Jembatan

Gambar
Sumber foto: pixabay                                                     'Seperti pulang pada pelukan ibu' kau tahu di sanalah kau akan tinggal dalam lengkunganku hangatnya menjadi kekal yang membuatmu terus merasa aman tanpa beban   pikiran      di ujung pekan--yang selalu membuai harapan tentang kebahagian di masa depan Sementara aku tersemai dalam memori bagaimana keikhlasan adalah buah dari kehidupan bagaimana ketakutan bak gelombang yang menepi di perairan Dan di titik itulah kedewasaan menjadi jembatan-- yang menghubungkan sekaligus memisahkan Hingga kekal yang kau damba mampu menuntunmu berbalik arah aku berdoa kita menjelma lapang yang kenangnya perlahan lekang dan ketenangan menjadi bekal saat menemukan jawaban

Alegori Rasa Spageti

Gambar
Spageti tak lagi sama saat pertama kali aku mencobanya. Berkali-kali aku mencoba resep, tidak pernah mendapatkan kembali rasa yang sama saat aku memasaknya di usia 17. Ingin rasanya kuputar waktu, tapi keinginan tersebut hanyalah sebuah kepasrahan bagi orang yang menyeka takdir. “Ini juga enak, kok. Saus-nya pas,” ujar ibu yang seringkali mencicipi makanan itu. Tapi, saat kucoba cicipi, rasanya cukup hambar di lidahku. Rasa yang asing itu menghantuiku bertahun-tahun saat kuputuskan pindah kota dan meninggalkan masa remajaku di kota B. Fakta yang kutemukan: aku tidak bisa memasak spageti. Mengikuti  kursus memasak menjadi tantangan sendiri. Saat tugas italian food menyapa, aku mangkir sampai dicari instruktur. Aku tak pernah sempurna menyajikan mie dengan saos bolognese dan daging cincang di atasnya. Namun, untuk menggelar sertifikasi juru masak, aku harus berusaha memperbaiki hal tersebut. Hingga di suatu malam, saat aku mencoba resep kembali, aku mendapatkan pesan, “Dira apakabar?...

Saat Kehangatan Memelukmu dan Menjadi Ombak

Gambar
Punggung ombak itu mengalun, melebur dengan suaranya yang lirih telah ia menampung gulungan demi gulungan dari palung terjauh untuk menemuimu di bibir pantai tapi serumu selalu berbias lantang asmara sementara yang tersisa hanya semilir yang membuatnya menjauh dan menjauh hanya menjadi debur yang menepikan gelombang  tak lagi mendekap tapi hangatnya tetap melekat Hingga kamu menerka hitungan ke berapa ombakmu kembali jeda yang kamu bawa bukan menjadi jembatan melainkan karang yang telah menjelma buih tapi kamu tak pernah tahu baginya kamu adalah rotasi hidup yang terus berulang dan berulang

Saat Langkah lupa Menghapal Arah

Gambar
Untuk pertama kalinya, aku enggan untuk pulang Setelah menjadi karib, aku dan hiruk pikuk bandara berpelukan peluhku menghilang diganti dengan sekelumit benang di kepala Temu yang harus tertunda waktu atau gemuruh di balik awan yang rasanya mengudara rangkaian momen manis rasanya hanya menjadi tulisan-tulisan setengah jadi, terhenti  Barangkali memang kuasa memaksa kita untuk melupakan titik ini mengganti dengan rangkaian kalimat baru--yang sebelumnya bersembunyi pada bahasa ibu dan jika bisa ditulis ulang, aku hanya ingin berpulang pada satu kalimat yang selalu engkau baca berkali-kali, ‘sampai ketemu lagi,’

Satu Hari Pergi ke Tempat Ahli Surga

Gambar
Bagaimana kehidupan tanpa mampu mendengar dendang Mba Taylor Swift? Atau bagaimana rasanya pertumbuhan dan perkembangan intelektual yang sangat lambat? Apakah saya akan hidup seperti saat ini? Mengunjungi sekolah luar biasa (SLB), membuat saya bersyukur bahwa hidup yang saya punya adalah sebaik-baiknya hidup.Sebagaimana kita tahu, keistimewaan identik dengan teman-teman berkebutuhan khusus.   Beberapa minggu lalu, saya mengunjungi SLBN Surakarta untuk pekerjaan. Inilah pertama kalinya saya dinas ke SLB. Tak hanya berangkat dinas, ternyata saya menemukan makna di balik tugas tersebut.  Meraih Passion dalam Senyap Perkenalan saya dimulai dengan Ester, teman tunarungu yang memiliki bakat di bidang boga.  Sekilas, ia seperti remaja pada umumnya yang semangat mengikuti praktik membuat kue. Seragam putih abunya pun ditutupi celemek untuk terhindar kotor dalam memasak. Sorot matanya memancarkan semangat seolah berkata ‘Ini passion saya’. Dibantu dengan guru, saya pun berkom...

Menangkap Cahaya di Dinding Bulan

Gambar
Menangkap kilau di mata, seperti menghalau pena untuk berhenti menulis di tengah berisiknya kepala, kepada tanya, kau akan berkata-kata  di mana letak tanda koma yang memberimu jeda saat pengap menyesakkan dada di mana huruf yang berlarian di saat kau mampu memeluk dirimu sendiri Satu per satu kalimat tersusun, kau berhasil menulisnya sambil tertatih, meski ada racauan dan kalimat yang salah, kau masih bisa menghapus dan menggantinya Hingga kilau itu semakin menyilaukan matamu kau akan mengernyitkan dahi dan menutup cahaya gemerlap itu dengan kedua tangan seraya berjalan meraba dinding dingin bulan cahaya yang kau damba membuat matamu semakin perih, berkali-kali barangkali sinarnya hanya membuatmu sesaat hangat walau akhirnya ia menyengat tubuhmu dan tertusuk luka yang sama