Alegori Rasa Spageti



Spageti tak lagi sama saat pertama kali aku mencobanya.


Berkali-kali aku mencoba resep, tidak pernah mendapatkan kembali rasa yang sama saat aku memasaknya di usia 17. Ingin rasanya kuputar waktu, tapi keinginan tersebut hanyalah sebuah kepasrahan bagi orang yang menyeka takdir.


“Ini juga enak, kok. Saus-nya pas,” ujar ibu yang seringkali mencicipi makanan itu.


Tapi, saat kucoba cicipi, rasanya cukup hambar di lidahku. Rasa yang asing itu menghantuiku bertahun-tahun saat kuputuskan pindah kota dan meninggalkan masa remajaku di kota B. Fakta yang kutemukan: aku tidak bisa memasak spageti.


Mengikuti  kursus memasak menjadi tantangan sendiri. Saat tugas italian food menyapa, aku mangkir sampai dicari instruktur. Aku tak pernah sempurna menyajikan mie dengan saos bolognese dan daging cincang di atasnya. Namun, untuk menggelar sertifikasi juru masak, aku harus berusaha memperbaiki hal tersebut.


Hingga di suatu malam, saat aku mencoba resep kembali, aku mendapatkan pesan,


“Dira apakabar? Anaknya Bara meninggal, mau melayat bersama kah?” pesan dari teman SMA ku tiba-tiba menjadi notif mengagetkan.


Tanpa pikir panjang, aku mengetik, “Iya, aku ikut.”



***


Pesan Ibnu kala itu menjadi pintu yang membuka ingatan pada kota B. Sebuah kota kecil yang jauh dari bising metropolitan. Saat menuju kesana, masih terlihat jembatan hijau yang menjadi penghubung dua kecamatan. Aku pun teringat masa putih abu yang harus menyusuri jembatan tersebut untuk menuju sekolah dan pulang ke rumah.


Perjalanan ini ternyata semakin berat ketika orang yang tak pernah kutemui lagi pun terlihat lemah di pusara anaknya. Terakhir kulihat ia tersenyum bahagia berjalan di altar menyambut masa depannya yang hangat. Tak kusangka, kehangatan yang ia damba harus terlewati pahit terlebih dahulu.


Bela sungkawa pun kuucapkan sama seperti aku mengungkapkan selamat pernikahan kala itu. Ia tersenyum getir menatapku, ku tahu, ada dorongan matanya ingin memelukku, tapi ia tahan sekuat tenaga di hadapan teman-temanku yang lain. Ia tahu aku tahu, semua yang usai haruslah usai tanpa perlu membukanya lagi.


Selepas pemakaman, aku bersama 4 orang lainnya, yaitu Ibnu, Amara, Clara, dan Kristo pun berkunjung ke rumah duka. Tak kusangka, rumah duka yang seharusnya sendu itu, begitu ramai penuh gelak tawa.


“Serius ini rumah duka?” tanya Amara kebingungan.

Sementara, kulihat Bara pun mempersilahkan kami masuk. Sepanjang yang kutahu, tak pernah kulihatnya sepucat itu. Istrinya pun tak bisa berkumpul bersama dan mengurung diri di kamar. Hingga Ibnu, dengan mulut ceplas-ceplosnya, bergumam.


“Makan masakan Dira kayaknya enak nih,”


Semua mata pun tertuju padaku. Kulihat mata mereka penuh dengan harapan yang banyak. Kebiasaan setelah pulang sekolah, kami selalu berkumpul bersama, sekadar mengerjakan tugas ataupun cekakak-cekikik.  Di sela-selanya kami sering membuat berbegai macam kreasi makanan untuk mengganjal perut. Bahkan, di setiap ada yang ulang tahun kami pun selalu membuat cupcake. Semangat masa muda yang nostalgic. 


“Mau masak apa?”

“Di dapur cuma ada spageti, Dir,” ungkap Bara si tuan rumah.

“Yes! carbonara atau bolognaise guysss?” tanya Clara semangat


Saat mereka memperebutkan memilih dua jenis pasta tersebut, aku hanya terdiam, bagaimana kalau mereka tahu, aku tidak bisa masak hal tersebut. Apakah aku akan ditertawakan, terlebih mereka tahu aku mengikuti kelas chef?


***


Kutepis  kepanikanku. Kupersiapkan bawang putih dan bombay serta saus bolognaise racikan sendiri. Walaupun tak percaya diri, setidaknya aku mencoba. Dengan bantuan Clara dan Amara, kami pun bercengkrama sambil membuat sajian ini. Sementara para lelaki, berusaha menghibur Bara.


Tak selang berapa lama, spageti itu terhidang sempurna. Dengan taburan keju di atasnya membuat siapapun tertarik untuk mencoba. Kulihat teman-temanku pun antusias melihat gulungan tepung panjang tersebut. Segera mereka pun mengambil piring kecil yang sudah disediakan Clara di meja makan, mengambil spageti tersebut untuk siap-siap masuk ke mulut masing-masing. 


Kucoba hasil buatanku dan ternyata inilah rasa yang kucari. Saat kuputar garpuku terdengar gelak tawa aku di usia 17 bersama mereka yang masih memakai putih abu-abu. Lalu saat kumasukan mie ke mulutku,  terputarlah seluruh rangkaian acak yang terbenam di memori dan meluap ke luar: kekonyolan, cinta yang tak terbendung, kepolosan, dan tawa yang tak pernah kutemui saat dewasa.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata-kata Yang Berlari di Tengah Jatuh Cinta

Satu Hari Pergi ke Tempat Ahli Surga

Menangkap Cahaya di Dinding Bulan